Senin, 24 November 2008

Memakai Jilbab

Sangat pilu! Itulah perasaan seorang gadis Muslimah yang bernama Winie Dwi Mandella, petugas medis di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat. Betapa tidak, di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini ia mendapatkan perlakuan yang sangat tidak adil; dipecat dari rumah sakit tempat kerjanya hanya karena mengenakan jilbab/kerudung.

Kisah malang yang menimpa Winie semakin menambah panjang kasus-kasus serupa di tempat lain dan institusi yang berbeda. Puluhan tahun silam, Januari 1983, misalnya, SMAN 68 Jakarta Pusat pernah melarang salah seorang siswinya mengikuti pelajaran karena mengenakan jilbab. Ia dianggap tidak mematuhi aturan seragam sekolah. Hal serupa terjadi di SMAN 33 Jakarta.

Masih ingat dengan kasus pemecatan Hadis dan Dewi? Mereka adalah dua mahasiswi Akper Muhammadiyah Banjarmasin yang dikeluarkan lantaran tidak menaati aturan berpakaian yang ditetapkan oleh institusi tempatnya belajar. Keduanya dikeluarkan hanya karena mengenakan jilbab yang mereka yakini lebih sempurna. Ini terjadi pada tahun 2003.

Setahun lalu (2007), di Jawa Timur, juga ada larangan berjilbab bagi peserta seleksi calon anggota Paskibraka di Kabupaten Kediri. Di Jakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta memperketat aturan berjilbab bagi para mahasiswinya. Di Bandung, juga terjadi pelarangan jilbab bagi perawat di Rumah Sakit Kebonjati.

Sebetulnya, masih banyak kasus serupa di banyak tempat lain di Indonesia, yang mungkin sebagiannya tidak terungkap oleh media secara nasional. Jelas, ini ironis sekali. Pasalnya, Indonesia bukan seperti negara-negara Barat yang jelas-jelas kufur. Indonesia mengklaim bukan negara sekular. Bahkan tertuang dalam UUD 1945, pasal 29: Negara memberikan jaminan kebebasan bagi warga negaranya untuk menjalankan kehidupan beragamanya.


Muslimah di belahan dunia lain juga tidak kalah pilunya. Mereka mendapatkan perlakuan tidak adil dan biadab. Turki, misalnya, yang mayoritas penduduknya Muslim dan pernah menjadi pusat pemerintahan Islam selama berabad-abad lamanya, melarang mahasiswanya untuk mengenakan jilbab ke kampus. Demi mempertahankan jilbabnya, banyak gadis berjilbab yang akhirnya putus sekolah dan lebih memilih tinggal di rumah daripada pergi ke kampus dengan rambut terurai.



Di Jerman, wilayah larangan berjilbab semakin meluas. Dari 16 negara bagian, 8 negara bagian telah memberlakukan larangan tersebut. Dikatakan, larangan berjilbab diadakan untuk menghindari seseorang dari pengaruh. Tidak jelas pengaruh apa yang dimaksud.



Di Prancis, Presiden Jacques Chirac telah memberlakukan undang-undang yang juga melarang penggunaan jilbab bagi Muslimah.



Di Belanda, Maret 2006, Geert Wilders yang merupakan salah seorang anggota parlemen sayap kanan menggelindingkan bola liar dengan mengusulkan larangan mengenakan burqa (termasuk juga jilbab). Ia mengatakan bahwa burqa akan menjadi musuh kaum perempuan. Apa yang dilontarkan oleh Wilders berbuntut pada munculnya peraturan yang melarang pemakaian burqa secara nasional di seluruh wilayah Belanda pada Desember 2006.



Di Inggris, November 2004, jilbab juga kembali dilecehkan. Saat ini dilontarkan oleh institusi tertinggi kedua dalam Keuskupan Inggris. Pernyataan itu berasal dari Uskup York, John Sentanu, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar British Daily Mail. Ia menyatakan bahwa jilbab tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan.



Larangan berjilbab juga diberlakukan di Swedia dan Belgia.



Di Spanyol jilbab dituduh sebagai simbol penindasan terhadap kaum perempuan. Padahal Spanyol telah mengakui Islam berdasarkan undang-undang kebebasan beragamanya yang disahkan pada Juli 1967.



Di Nigeria jilbab di sekolah serta penggunaan celana panjang dan peci untuk laki-laki juga dilarang.



Bahkan di negara Timur Tengah seperti Tunisia pun terjadi hal yang sama. Saat kepemimpinan Presiden Tunisia Habib Bouruiba, tahun 1981 Tunisia meratifikasi UU nomor 108 yang melarang wanita Muslimah di Tunisia mengenakan jilbab di lembaga-lembaga pemerintahan. Puncaknya, Pemerintah Tunisia bahkan 'mengharamkan' wanita berjilbab 'masuk' dan dirawat di rumah sakit negara. Lebih 'biadab' lagi, pemerintah telah melarang ibu-ibu hamil melahirkan anaknya di rumah sakit negara lantaran berjilbab. Bahkan saking kalapnya dalam aksi pemberangusan jilbab, pada September 2006, pemerintah Tunisia menggelar sebuah operasi pengamanan dengan mengobrak-abrik berbagai toko yang di dalamnya menjual boneka berjilbab, 'Fulla'.



Inilah potret Muslimah yang selalu menjadi korban pertama dan utama dalam setiap penerapan sekularisme radikal. Mereka juga sekaligus korban dari apa yang disebut dengan 'Islamophobia' (ketakutan dan kebencian terhadap Islam).





Pejuang HAM Diam, Penguasa Tak Peduli





Dalam banyak kasus larangan jilbab, berbagai LSM/kelompok-kelompok pejuang HAM lebih banyak diam. Kemana pula para pegiat isu gender? Bukankah para Muslimah juga perempuan yang harus diperjuangkan hak publiknya? Mungkin karena kasus larangan jilbab justru menguntungkan mereka. Pasalnya, selama ini mereka bekerja seolah untuk sebuah 'proyek': menyudutkan Islam dan kaum Muslim. Saat Islam dan kaum Muslim sedang tersudut, mereka diam. Ketika ada peluang untuk menyudutkan Islam dan kaum Muslim, dengan cepat mereka bereaksi. Contohnya dalam kasus poligami Aa Gym beberapa waktu lalu atau pernikahan Syekh Puji-Ulfa baru-baru ini.



Di sisi lain, penguasa pun seolah tidak peduli terhadap kasus-kasus sensitif yang menimpa umat Islam, termasuk kaum Muslimah, khususnya dalam kasus larangan jilbab. Padahal, bandingkan dengan dulu saat umat Islam berada dalam naungan Kekhilafahan Islam dan penerapan syariah Islam, serta dipimpin oleh para khalifah yang adil dan amanah. Pada masa Khalifah al-Mu'tashim Billah, misalnya, pernah seorang Muslimah berteriak, "Wahai al-Mu'tasim! Di manakah engkau?!" Muslimah itu ditawan oleh Kerajaan Romawi di Malta. Di sana ia dilecehkan kehormatannya sekaligus diperlakukan dengan sangat buruk. Meski ia sangat jauh di Malta, beritanya telah tersebar dari orang ke orang hingga sampai juga kepada Khalifah.



Dengan cepat Khalifah al-Mu'tashim bereaksi. Tidak tanggung-tanggung. Ia lalu mengumandangankan jihad terhadap Kerajaan Romawi. Secepat kilat, Khalifah al-Mu'tashim berikut puluhan ribu bala-tentara kaum Muslim bergerak menuju kota Ammuriyah di Romawi, untuk kemudian menaklukan Kerajaan Romawi saat itu juga. Demikianlah, hanya demi melindungi seorang Muslimah, Khalifah tak segan-segan mengumandangkan perang jihad melawan siapa saja yang melecehkan Islam dan kaum Muslim.



Bagaimana dengan nasib ribuan—bukan hanya seorang—Muslimah pada hari ini yang bernasib buruk? Mereka bukan saja dilarang berjilbab, bahkan sebagiannya dilecehkan kehormatannya dan diperkosa oleh orang-orang kafir, sebagaimana telah banyak terjadi di Palestina, Irak dan Afganistan. Tak ada satu pun penguasa Muslim yang tersentuh kemudian tergerak untuk melindungi mereka.





Islamophobia Vs Keagungan Islam





Berbagai kasus pelarangan jilbab di Indonesia maupun di luar negeri, khususnya di negara-negara Barat, boleh dikatakan merupakan wujud dari masih bercokolnya sikap Islamophobia (ketakutan dan kebencian terhadap Islam), baik di kalangan umat Islam sendiri maupun kalangan non-Muslim.



Tentu aneh jika ada kalangan Islam yang malah phobi (takut) terhadap Islam. Adanya ketakutan dan kebencian kaum kafir terhadap Islam juga tak kalah anehnya. Pasalnya, sepanjang sejarah, saat umat Islam menjadi pemimpin dan syariah Islam diterapkan, Islam adalah agama yang senantiasa menjamin keamanan, keselamatan dan kebebasan kaum minoritas non-Muslim dalam beribadah sesuai dengan keyakinan mereka. Ini sudah berlaku sejak masa Rasulullah saw. dan tetap dilaksanakan oleh para khalifah sepeninggal Beliau. Kebijakan yang begitu ramah terhadap non-Muslim ini terus berlangsung selama berabad-abad lamanya sepanjang sejarah Kekhilafahan Islam.



Karen Amstrong dalam bukunya, Holy War, menggambarkan saat-saat penyerahan kunci Baitul Maqdis kepada Khalifah Umar bin al-Khathathab kira-kira sebagai berikut, "Pada tahun 637 M, Umar bin Khaththab memasuki Yerusalem dengan dikawal oleh Uskup Yunani Sofronius. Sang Khalifah meminta agar ia segara dibawa ke Haram asy-Syarif dan di sana ia berlutut berdoa di tempat Nabi Muhammad saw. melakukan perjalanan malamnya. Sang Uskup memandang Umar penuh dengan ketakutan. Ia berpikir, ini adalah hari penaklukan yang akan dipenuhi oleh kengerian yang pernah diramalkan oleh Nabi Daniel. Pastilah, Umar adalah sang Anti Kristus yang akan melakukan pembantaian dan menandai datangnya Hari Kiamat. Namun, kekhawatiran Sofronius sama sekali tidak terbukti."



Setelah itu, penduduk Palestina hidup damai dan tenteram; tidak ada permusuhan dan pertikaian meskipun mereka menganut tiga agama besar yang berbeda: Islam, Kristen, dan Yahudi.



Apa yang dilakukan Khalifah Umar ra. jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh tentara Salib pada tahun 1099 M. Ketika mereka berhasil menaklukkan Palestina, kengerian, teror, dan pembantaian disebarkan hampir ke seluruh kota. Selama dua hari setelah penaklukkan, 40.000 kaum Muslim dibantai. Pasukan Salib berjalan di jalan-jalan Palestina dengan menyeberangi lautan darah. Keadilan, persatuan, dan perdamaian tiga penganut agama besar yang diciptakan sejak tahun 1837 oleh Khalifah Umar ra. hancur berkeping-keping.



Meskipun demikian, ketika Shalahuddin al-Ayyubi berhasil membebaskan Kota al-Quds pada tahun 1187 M, beliau tidak melakukan balas dendam dan kebiadaban yang serupa. Karen Armstrong menggambarkan penaklukan kedua kalinya atas Yerusalem ini sebagai berikut, "Pada tanggal 2 Oktober 1187, Salahuddin dan tentaranya memasuki Yerusalem sebagai penakluk dan selama 800 tahun berikutnya Yerusalem tetap menjadi kota Muslim. Salahuddin menepati janjinya. Ia menaklukkan kota tersebut menurut ajaran Islam yang murni dan paling tinggi. Ia tidak berdendam untuk membalas pembantaian tahun 1099…"



Perlakuan Kekhilafahan terakhir, Khilafahan Utsmaniyah, terhadap kaum non-Muslim dilukiskan sejarahwan Inggris, Arnold J. Toynbee, dalam bukunya, Preaching of Islam, "Perlakuan terhadap warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman—selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani—telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa…"



Demikianlah, dengan secuil fakta sejarah di atas, jelas tidak seharusnya orang-orang non-Muslim, apalagi kaum Muslim, tetap mengidap Islamophobia. Sebab, Islam datang memang untuk menebarkan rahmat bagi seluruh umat manusia. Mahabenar Allah SWT yang berfirman:





Bur š »oYù=y™ö'r& žwÎ) ZptHôqy' šúüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ



Tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluuruh alam (QS. Al-Anbiya [21]: 107).[]





KOMENTAR:



Yusuf Kalla: Kalau perusahaan Aburizal Bakrie yang sedang kesulitan tidak kita bantu, justru kita melakukan diskriminasi (Republika, 18/11/2008).



Bagaimana dengan para korban Lumpur Lapindo yang hingga kini terlantar lebih dari 2 tahun?

Kamis, 22 Mei 2008

Curahan Hati 1

-

Pagi ini rinda tlp ibu. Pertama yang angkat bapak. Seperti biasa suara khas bapak yang menggelegar bikin orang ciut nyali saat mendengarnya. Ops, tapi tidak buatQ. Dah biasa kale…

“Ono opo!!!” dengan suara yang sok galak bapak mengangkat telp. Weeh mbok salam dulu tho pak… dan alhamdulillah beliau membalas salamQ. Gantian deh, dengan sok sinis aq bilang ma bapak “wah bapak kie, anake wedok sing ayu dewe pengen telp koq mboten angsal! Sampun, kulo ngobrol kaliyan ibu mawon!” dan telp-pun berpindah tangan pada ibuQ tercinta. Hehehe… sorry ya Be…

Dan obrolan pun mengalir seperti biasa. Di seberang sana bapak sesekali menimpali. Tapi kalo aq minta supaya ngomong langsung ma aq, eeh malah gk mau. Maunya nimbrung ajjah. Katanya panas kupingnya kalo ngobrol lewat telp lama-lama. Yee, padahal kan pake speaker aktif! Trus alasannya lagi tar pulsanya cepet abiz kalo aq telp lama2. lhah aq emang pusing nyari cara untuk ngabisin pulsa 3. soalnya pulsa telp sesama 3 masih banyak bgt. Mo ngobrol 3 hari 3 malem nonstop ajjah masih ok koq. Paling batrenya ajjah yang dropp. Emang Babe nih ade-ade aje!

Hari sabtu adikQ Wedda mo ke jogja, piknik ma temen2nya. Aq ingin ketemu siih. Apa aq kencan ajjah ya ma Wedda. Penampilan fisiknya yang tinggi besar itu kadang emang menipu banyak orang. Kadang orang mengira kalo Wedda itu masQ. Lebih parahnya lagi ada yang mengira kalo dia pacarQ. Hehehe… aneh2 ajjah. Aq siih nyante ajjah. Biarin semua orang ngira Wedda itu cowokQ supaya gk ada orang yang berharap lebih dariQ. Ih PeDe bgt ya aq. Emang sapa yang mau ma aq!! :P

Tapi terkadang aq emang suka iseng siih. AdikQ kan lumayan populer di depan temen2 ceweknya. Dasar “playboy cap kecoa”, begitu aq sering menjulukinya. Terkadang aq sok2 aksi kalo ada temen ceweknya. Ato kalo ada telp dari temen ceweknya, aq sering ngerjain juga. Sehingga ada juga temen ceweknya yang salah paham ngirain aq tuh pacarnya. Hehehe… syukurin :P

Habisnya aq jengkel bgt ma sifat Wedda yang sok-sok nggombal sana sini. Mending siih kalo yang digombalin itu satu orang aja. Lhah dia itu sukanya nggombal pada banyak cewek. Pusing kan!!!

Pernah suatu waktu pas dia jalan ma salah satu cewek, ternyata ketahuan ma ceweknya yang lain. Akhirnya semua ceweknya tahu ttg ke-playboy-annya. Akhirnya pusinglah dia, diputusin smuanya. Huahuahua… waktu Wedda cerita hal itu dengan tampang sok melasnya, aq malah tertawa ngakak. Ops! Gak syar’i donk. Mringis ajjah udah cukup. Hehehe…

Waduh, lupa! Hari sabtu malam mingggu kan ada janji ma Titi. Dia ingin diajarin internet. Sebenernya Titi udah bisa siih tapi kurang begitu mantap. Makanya dia minta diajarin rinda. Kalo tak ajakin ke Malioboro dulu ketemu adikQ kan gpp tho. Paling ketemu cuma bentar aja gpp.

Pusing niih. BabeQ tercinta gk bisa ke jogja tgl 1 nanti. Iyah siih bapak kan udah sepuh. Dah gk kuat naik motor jepara-jogja. Apalagi ngotong2 komputerQ. Jangan deh! Mending istirahat di rumah ajjah. Lha trus gmn komputerQ. Padahal dimanapun aq berada, aq tuh susah lepas dari computer. Kata bapak dijual ajjah. NO WAY!! Computer ini udah menemaniQ senang dan susahQ. Eman-eman bgt kalo dijual. Aq udah terlanjur sayang je. Pokoknya bagaimanapun caranya aq harus bawa pulang.

Minta tolong temen2 ajjah deh. Soal bensin, bisa aq gantiin. Paling tiap motor Cuma abis 50rb pulang pergi. Kalo makan kan udah ditanggung rumah. Hehehe… Tar coba ditanya satu-satu ajjah.

Gk terasa ya ternyata tinggal 1 minggu lagi aq di jogja. Padahal aq ingin lebih lama lagi di jogja. Entah knapa jogja selalu ajjah buat aq kangen. Tapi ibu dah pengen aq cepet-cepet di jepara. Katanya kangen pengen ngomeli aq lagi. Hehehe… tau ajjah kalo anaknya yang satu ini paling bandel. Lagi-lagi bapak menimpali “yen diomeli mlayu wae”. Hehehe… OK Boss!!

Selasa, 20 Mei 2008

Jerit Pilu Si Pengamen Kecil



By : Nok_Reendha
7 Januari 2004

Peluh yang semakin deras mengalir
Membuat kain lusuh itu melekat di tubuh mungilnya
Sepasang kaki menapak tanpa alas di aspal panas
Hanya berbekal suara dan alat musik sederhana
Serta harapan yang membuatnya bertahan

Sinar matanya menatap tanpa dosa
Ia sembunyikan derita hidup ini
Ia simpan duka di sudut hati
Ia lewatkan masa kecil yang jadi miliknya
Mencari nafkah yang bukan jadi tugasnya

Ia hanya ingin disadari, bukannya diacuhkan
Ia hanya ingin diakui, bukannya disingkirkan

Walau mulutnya membisu, tapi hati menjerit pilu
Ia berteriak pada Tuhan dan penghuni metropolitan
‘Aku disini! Berpalinglah padaku!’
‘Lihatlah aku….’